Tikungan di Ujung Jalan

11 Mar 2012

Dua kali HP yang digengam Shiva berdering, tetap bergeming memandang lukisan surealism Natalie Shau yang menempel di dinding kamarnya. Ntah apa, butiran air yang mengedap di sudut matanya tiba-tiba menetes, bening. Ada rasa yang bergelayut, asa pun berjalan beriring.

Memang aku egois, ku akui itu. Sejak bertemu dan berkenalan secara dekat denganmu 4 bulan lalu, kadar emosiku semakin meningkat. Rasa itu tak pernah ku pendam, padahal tidak dengan orang lain. Aku bisa menghanyutkan secara perlahan, tapi tidak dengan kamu. Muara dari rasa itu terluapkan jua. Kita sepakat menjalaninya tanpa ada ikatan rasa, rasa memiliki.

Larut dalam bening rintik hujan, Shiva berusaha mengingat masa pertemuaannya dengan Adiputro; teman, sahabat, kakak, calon pendamping hidup, begitu Shiva menyebutnya. Aku yang mulai, aku yang mengakhiri. Namun kini, kalbu ini selalu bergetar tatkala ada .

Kali ini Shiva cukup melirik screen display smartphone hadiah dari Eyang Putri. Kedip tiga kali. Nomor spesial yang dulu selalu di nanti, namun sekarang tiada arti lagi.

———- ## ———–

Tiga bulan silam, Bos Karoseri hendak mengirim salah satu ahli rekasaya rumah kendaraan ke perusahaan luar negeri. Laksana gayung bersambut, berkat Restu Ibu akhirnya Adiputro menerima tawaran si empunya karoseri untuk menimba ilmu ke negeri tirai bambu, Cina. Bukan tanpa alasan Adiputro menerima tawaran itu. Negeri yang ditenggarai sebagai raksasa dunia industri di kawasan Asia bersejajar dengan Jepang dan Korea ini sudah terbuka dengan raksasa barat, bahkan kesan “menantang”pun dilakoninya. Secara pribadi, Adiputro juga ada niat menambah pengalaman di negara Paman Sam dan pembesut Mercedes Bens, tapi niat itu urung karena beaya yang dibutuhkan tidaklah kecil.

Selama dipisahkan laut, hubungan satu bulan dengan Shiva masih Tentrem, komunikasi berjalan dengan lancar bahkan semakin hangat. Tapi, setelah bulan kedua, hubungan keduanya mulai renggang. Adiputro jarang telpon, bahkan sms Shiva pun jarang di balas. Rindu yang tak tertahan akhirnya meledakkan rasa yang tersimpan. Genap 3 bulan purnama, Shiva memutuskan hubungan sepihak dengan lelaki yang didambakannya.

rambu-cintaJalan yang di tempuh Shiva memang beresiko, layaknya seorang pengemudi yang harus sigap ketika ada aral yang melintas di jalan, banting stir atau rem mendadak, keduanya adalah pilihan yang harus dijalani.

Di halaman depan, nampak tetesan embun pagi berkejaran dengan cahya fajar, raut wajah Shiva pun demikian. Bak harapan yang tersisa mulai tumbuh dan bersemi kembali seiring kedewasaan diri Shiva. Memahami sikap orang lain walau rasa perih sekalipun yang akan menghapirinya ; Jujur mengakui dan akan merubah sikapnya yang egosentris selama ini; Menjaga cinta yang ada dan tetap bersabar akan keyakinannya bahwa kekasih hati juga setia dengan cintanya.

Selang beberapa menit setelah menghabiskan sarapan, Taksi langganan dengan nomor lambung L 41245 sudah siap di depan gerbang pagar mengantar Shiva ke tempat tujuan, koridor cinta sejati Adiputro berada.

—– Mobil Butut bercerita :) —-


TAGS cinta motivasi kehidupan


-

Author

Follow Me