Muatanku Tak Sebanding Dengan Kangenku

16 Feb 2012

Awaaas kaaang….gubrak…

Sopir mobil plat kuning tak berpenumpang itu tak kuasa mengendalikan laju kendaraannya ketika berusaha menghindariku saat menyeberang. Dan …., warung nasi mbok Imah yang terbuat dari kayu bekas bangunan akhirnya menjadi pendaratannya terakhir. Hancur.

Tak semudah membalik telapak tangan. Hari ini membawa uang, besok tidak, entah lusa. Meski hal ini sudah berlangsung tiga bulan tapi syukur nikmat masih melekat dalam hati. Wis ra popow, sabar tur ikhlas senajan pas-pasan, urip nang donya mung mampir ngombe wae.

Selagi ngopi di warung wak Dul, tiba-tiba bunyi polyphonic HP jadul menyapa.

” Kang, cepat ke Puskesmas kecamatan ya?!, mas Rosyid mendapat musibah,” Dari kejauhan terdengar sayup suara lelaki yang kukenal. Kemudian suara itupun menghilang.

Batinku pun bertanya,” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un … ada dengan mas Rosyid?”

Bergegas, sekalian pinjam sepeda onthel wak Dul yang bersandar di bilik bambu , aku menuju Puskesmas kecamatan.

Setiba di Puskesmas, ketara di wajah mas Rosyid sedikit menahan rasa perih. Alhamdulillah, luka yang ada di tangan, kaki dan sedikit goresan di wajahnya cepat tertangani oleh Mantri, kalo tidak, infeksi akan merusak jaringan tubuh. Peristiwa ini mengingatkanku pada kejadian tragis enam bulan yang lalu, jadi ingat kamu, Sri.

Hanya sekitar 15 menit aku berada di ruang tunggu UGD. Terlihat beberapa rekan sopir yang sempat datang ke Puskesmas dengan spontanitas menggalang dana. “Kang, saweran yo, dikit tapi ikhlas, buat bantu-bantu biaya obat mas Rosyid”, Bisik kang Bejo kordinator sopir angkut di Pasar Kliwon.

Sambil memasukkan dua lembar sepuluh ribuan di kopiah kang Bejo, batinku berbisik,” Uang di dompet tinggal sepuluh ribu loh, besok makan apa?”

Suara batin ini semakin bergejolak,”Hmmm… mau amal kok masih mikir”. Lamunanku buyar seketika tatkala tangan kang Bejo menyentuh pundakku.

Kukayuh sepeda onthel wak Dul menuju pangkalan dengan santai. Terbersit dalam benak, sepanjang perjalan sesekali mengenang masa lalu bersama calon tunangan, Sri.

Tepat jam 8 malam akhirnya sampai juga di warung wak Dul, aku langsung pamit menuju pelataran pendopo. Terlihat, meski sudah berumur 22 tahun, mobil pick up tahun 80-an itu masih terawat dengan baik. Suasana hari itu tak seperti biasanya, mungkin karena hujan seharian, untuk bongkar muat sayuran pun terasa beda dengan hari-hari sebelumnya, hanya bisa di hitung dengan jari hingga bada’ Isya’. Ya, inilah namanya roda kehidupan kadang di bawah, kadang di atas. Terpenting semua pekerjaan dilakoni dengan Lillahi ta’allah.

Meski sudah lewat satu jam, kulangkahkan kaki menuju suro yang hanya disinari 2 lampu petromax. Terasa adem, air wudlu pun turut mengalir ke dalam relung hati.

Februari. Sekarang, foto actual size dengan konsep snap shot yang terpajang di kamar kos hanya menjadi saksi bisu yang setia menemani di kala keheningan malam. Sembari berbaring memandang atap langit-langit rumah mengenang keindahan,” Kamu masih ingat khan, Sri, ketika lagu Mobil Butut terdengar di dashboard pick up ku? Kamu mesti langsung berceloteh,” Emang mas tau artinya, itu khan lagu sunda”.

“Hehehe…. liriknya yang aku tau hanya sepenggal-sepenggal Sri ; …. kaluaran baheula, geus carang, nyiuk cai di solokan, tapi yo ngertilah, apalagi pas Dut durut dut dut… asyiiik”.

kangenLamunan semu, rasa kangen menghampiri - menjadi satu. “Maaf ketika itu, kalo aku tak bisa berbuat banyak ketika mobil itu banting stir menabarak warung mbok Imah dan kamu tepat berhadapan dengan mobil itu. Aku sudah berusaha sekuat tenaga. Kamu yang berteriak, malah kamu sendiri yang terkena musibah. Selama enam hari kamu koma dan detik-detik terahkir sebelum meniggalkan dunia fana ini kamu sempat ditemani life support system. Aku hanya bisa berdoa semoga amal dan kebajikkan kamu di dunia kelak mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.Amin”.

Di penghujung malam, akhirnya aku dapat tarikan yang lumayan juga. Seandainya kamu masih bisa di ajak bercanda……. Aku kangen karo koe, Sri.


TAGS cinta fiksi amal memory


-

Author

Follow Me