Di Atas Gerbong Sore Itu

27 Jan 2012

Di tengah sesaknya penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) sore itu, terdengar sayup-sayup alunan sebuah lagu. Semula ada canda dan celoteh bercampur dengan suara riuh pedagang asongan yang menjajakan dagangannya, tiba-tiba suasana di gerbong terpecah. Alunan bait-demi bait lirik lagu yang dinyanyikan anak dan ibu itu memang terdengar merdu dan nyaman. Lambat laun hanya suara itu yang menggema di sudut gerbong kereta.

Berjalan pelan tepat dihadapanku, seorang ibu memegang bahu anaknya. Diiringi petikan gitar, si ibu tetap bernyanyi dengan pandangan kosong menatap kedepan. Oh tenyata, si ibu seorang tuna netra, tetapi hatinya bak jendela dunia. Di atas keterbatasannya toh masih berjuang demi sesuap nasi untuk anaknya.

Hatiku tergoda oleh suara khas si ibu, berusaha mencari uang di saku dan memang, masalah rezeki sudah ada yang mengatur. Uang logam seribu rupiah aku ulurkan kepada si ibu. Sambil bernyanyi si ibu membolak-balik uang logam yang aku berikan. Tidak bisa melihat, tapi, dengan indera perabanya dapat dipastikan bahwa ibu mengetahui nilainya.

“Apakah untuk mengenali uang logam harus diraba pada kedua sisinya? Aneh”.

“Ahh…Mengapa pertanyaan seperti ini tiba-tiba ada di benakku dan memikirkannya?!”.

Setelah turun dari KRL, ada satu pertanyaan yang harus aku selesaikan. Jawaban yang tepat adalah harus bertanya kepada si pembuat pertanyaan, seorang tuna netra. Sembari istirahat sejenak, aku coba bertanya kepada seorang tuna netra yang tepat duduk tidak jauh dariku.

“Maaf Bapak, boleh saya bertanya sesuatu? Kenapa bapak selalu meraba uang pada kedua sisinya untuk mengenali uang tersebut, bukannya cukup hanya sebelah saja?”

Adik cukup beruntung dan syukurilah nikmat-Nya, karena adik bisa mengenal tanpa meraba, adik diberi kelebihan dapat melihat. Tanpa meraba bapak tidak bisa mengenali uang itu asli apa palsu, atau berapa nilainya, kalau toh hanya sebelah yang bapak raba, keaslian uang itu belum bapak kenal, jadi harus kedua sisi yang di raba.

Adik pernah dengar sebuah kalimat; dua sisi uang logam tak akan pernah pertemu karena berada di dua sisi berbeda? Tapi bapak ingin sekali adik menjadi sekeping uang logam yang mempunyai dua sisi yang memang tak dapat dipisahkan dan bernilai. Dunia dan Akhirat, Lillahi Taala.

Dimanapun, kita dapat belajar.

- Review dari parkiran kanvas hitam yang sampai sekarang belum sempat up date :)


TAGS transportasi semangat hidup


-

Author

Follow Me